KONSEP-KONSEP PEMBELAJARAN YANG BERLAKU PADA SELURUH MODEL PENGAJARAN

KONSEP-KONSEP PEMBELAJARAN YANG BERLAKU PADA SELURUH MODEL PENGAJARAN

Model-model pengajaran untuk menciptakan lingkungan perkembangan intelektual siswa, antara lain :

  • Konstruktivisme

Dalam proses pendidikan ada dua sisi yang tak dapat dipisahkan yaitu apakah menekankan kepada materi pengajaran kepada siswa atau menekankan pola belajar siswa dalam bekerja sama untuk meningkatkan pengetahuan mereka sendiri. Sederhananya apakah kita akan mengajar mata pelajaran pada siswa, atau melatih mereka bagaimana  mempelajari mata pelajaran dan bagaimana belajar pelajaran baru.

 

Semua model pengajaran, mengajarkan pada kita bagaimana melatih siswa mengembangkan kapasitas mereka dalam meningkatkan pengetahuan dan bekerja sama dengan orang lain untuk menciptakan hubungan sosial dan intelektual yang produktif, meningkatkan pengetahuan dalam ranah akademik, sosial dan personal secara bersamaan.

Tokoh-tokoh :

  1. Plato dan Aristotels : mengembangkan teori tentang tujuan dan cara mengkonstruksi pengetahuan.
  2. John Dewey : pakar konstruktivisme abad XX
  3. c.       Lev Vygotskky

 

Intisari pembelajaran Konstruktivisme adalah :

  1. Dalam proses pembelajaran, otak menyimpan informasi, mengolahnya, dan mengubah konsepsi-konsepsi yang ada sebelumnya. Pembelajaran bukan hanya sekedar proses menyerap informasi, gagasan, dan ketrampilan, karena materi-materi baru tersebut akan dikonstruksi oleh otak.
  2. Otak bekerja sejak lahir, anak mempelajari kebudayaan dan berbagai keragaman lain yang ada dalam keluarga dan lingkungan masyarakat kelahirannya sejak mereka masih balita, atau bahkan bayi.

Informasi baru yang kita peroleh terbentuk sebagai kerangka berfikir dan rancangan kuat dari kostruksi gagasan yang ada sebelumnya.

Sikap konstruktivis adalah bahwa pengetahuan tidak sekedar ditransmisikan oleh guru atau rang tua, tetapi harus dibangun dan dimunculkan oleh siswa agar mereka dapat merespon informasi dalam lingkungan pendidikan.

 

Contoh :

Banyak pemula dalam olahraga tenis beranggapan bahwa mereka dapat memukul bola dengan ayunan datar, sejajar dengan tanah, padahal tidak, gravitasi akan menarik bola ke tanah sebelum bola tersebut mencapai net. Tanpa rekonstruksi pandangan kita tentang ayunan seperti ini, tenis tentu tidak akan menyenangkan dan kompetensi tidak akan meningkat.

Contoh lain,  seorang anak yang diasuh dengan cara-cara militant dalam berinteraksi, maka anak tersebut  akan menyelesaikan konflik dengan cara-cara yang lebih cepat dan agresif.

Contoh yang lebih mendalam adalah, pada lingkungan belajar kolaboratif, seperti sekolah atau kelas yang mapan, para siswa perlu belajar cara-cara integrative dalam menanggapi orang lain. Untuk itu dibutuhkan suatu rekonstruksi informasi.

 

  • Metakognitif

 

Metakognitif berhubungan dengan konstruktivisme dalam bagaimana mereka belajar, mengembangkan perangkat dan mengamati kemajuan.

Mengembangkan kontrol eksekutif (executive control) pada strategi-strategi belajar daripada secara pasif merespon lingkungan pembelajaran.

Contoh :

Ketika kita mengajar sains, kita dapat mengajarkan kepada siswa tidak hanya soal proses berfikir ilmiah, tetapi juga bagaimana menggunakan proses tersebut untuk belajar, tidak hanya untuk sains saja, tapi juga pelajaran lain.

 

Metakognitif dalam hubungannya dengan konstruktivisme mempunyai cirri-ciri:

  1. Guru tidak hanya mengajarkan proses berfikir ilmiah kepada siswa, namun juga menekankan kepada siswa bagaimana cara menggunakan proses tersebut untuk belajar

 

  1. Para pembelajar mengembangkan kontrol eksekutif (executive control) untuk mengembangkan kemajuan belajar, (sebagai contoh dalam membaca buku, mereka dapat mengolah informasi dan membuat konsep pada bacaan mereka)

 

  1. Siswa lebih mampu bersikap kritis dalam menyikapi permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran, baik berupa isi materi pembelajaran maupun proses pembelajaran yang sedang dijalani

 

 

 

Tokoh Perkins (1984) mengatakan :

Berbicara tentang ketrampilan berfikir dalam semua bidang kurikulum, siswa harus dilatih untuk memperoleh dan menyimpan pengetahuan, memahaminya dengan membangun konsep, kemudian menerapkannya agar nanti mereka bisa menjadi pemikir generatif (produktif)

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di teori belajar. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s