FILSAFAT KONSTRUKTIVISME PENGARUH DAN PENERAPANNYA PADA PENDIDIKAN FISIKA

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Proses pembelajaran fisika dewasa ini memerlukan strategi yang tepat untuk dapat dipahami oleh para peserta didik. Dengan menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dan tepat maka diharapkan penyampaian materi fisika kepada peserta didik akan dapat lebih menarik dan dapat memberikan motivasi kepada peserta didik untuk menggali materi fisika itu sendiri.

Dalam proses pembelajaran, khususnya pembelajaran fisika diharapkan peserta didik dapat menemukan permasalahannya sendiri. Dengan menemukan permasalahannya sendiri maka peserta didik akan mampu menggali lebih mendalam untuk memahami materi pembelajaran fisika tersebut. Dan dalam upaya menemukan solusi atau pemecahan masalah dalam pembelajaran fisika, peserta didik perlu mendapat bimbingan dan arahan dari guru yang berkompeten dibidangnya.

Peserta didik yang dapat menemukan permasalahan dalam pembelajaran fisika, dan dapat mencari sendiri solusi atau pemecahan masalahnya maka pemahaman siswa akan materi pembelajaran tersebut melekat dengan kuat dalam waktu yang relatif lama. Hal ini dikarenakan proses pembelajaran dilakukan oleh peserta didik.

Peranan guru dalam proses pembelajaran sebagai fasilitator yang memberikan motivasi dalam proses menemukan dan memecahkan permasalahan. Peranan peserta didik sebagai subjek dalam pembelajaran, yang berperan langsung dalam menemukan dan memecahkan permasalahan. Bimbingan guru diperlukan dalam mengarahkan dan membimbing peserta didik untuk menemukan dan  mencari penyelesaiannya sendiri dalam proses pembelajaran, sehingga dapat diharapkan tingkat pemahaman peserta didik akan meningkat.

Dalam memahami pelajaran fisika, peserta didik tidak hanya diajak untuk menghitung rumus dari sisi kajian teoritis saja, tetapi siswa diajak untuk membangun kerangka pemahamannya sendiri, mulai dari menyadari adanya masalah, menemukan data atau fakta, melakukan hipotesa, melakukan eksperimen, menyusun teori dan mengambil kesimpulan dari pemahaman materi tersebut.

Peserta didik yang menemukan dan dapat membangun konsep pembelajarannya sendiri atau mengkonstruksi konsep pembelajarannya akan mempunyai pemahaman yang baik terhadap materi pembelajaran tersebut serta mempunyai daya ingat yang kuat dan dapat dengan baik untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, atau diterapkan dalam kajian evaluasi pada proses pembelajaran. Selain  itu peserta didik yang dapat membangun pemahamannya sendiri akan mudah dalam mengembangkan materi tersebut pada kajian selanjutnya.

Pada makalah ini akan dibahas tentang proses pembelajaran fisika dikelas yang dilandasi dari filsafat konstruktivisme dalam pendidikan fisika. Filsafat konstruktivisme memberikan landasan yang kuat kepada guru dan juga peserta didik dalam mengkaji materi pelajaran secara menyeluruh  dan disesuaikan dengan kemampuan peserta didik, baik usia, perkembangan psikologis, perkembangan bahasa, maupun perkembangan dari sisi kognitif, psikomotorik dan afektif. Filsafat konstruktivisme memberikan gambaran yang jelas kepada guru dalam proses pembelajaran, metode pembelajaran maupun strategi pembelajaran untuk dapat diterima dengan baik kepada peserta didik.

Pada makalah ini juga akan dibahas tentang proses pembelajaran fisika di kelas secara menyeluruh berdasarkan acuan dari filsafat konstruktivisme dalam pendidikan fisika. Selain hal tersebut juga akan membahas filsafat konstruktivisme dalam pendidikan fisika akan memberikan dampak perubahan prilaku dan tindakan yang terarah dalam proses pembelajaran di kelas, baik perubahan perilaku kepada para pendidik maupun kepada para peserta didik. Perubahan perilaku ini merupakan dampak positif dari filsafat konstruktivisme dalam pendidikan fisika.

Proses pembelajaran fisika dikelas yang akan disampaikan kepada peserta didik  dari seorang guru dengan pendekatan membangun konsep (mengkonstruksi) merupakan salah satu bukti nyata adanya pengaruh pemikiran filsafat konstruktivisme yang diterima oleh pendidik dan peserta didik.

 

  1. Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mempelajari tentang filsafat ilmu dan kajiannya dalam penerapan bidang pembelajaran khususnya pembelajaran fisika dengan landasan pendekatan filsafat konstruktivisme. Selain hal tersebut juga akan mempelajari pengaruh atau dampak filsafat konstruktivisme bagi perubahan perilaku untuk para pendidik dan peserta didik. Makalah ini juga akan mempelajari penerapan metode pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme baik untuk pendidik dan peserta didik pada pembelajaran fisika.

 

  1. Permasalahan

Permasalahan pada makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah yang dimaksud dengan filsafat, munculnya filsafat dan perkembangan

aliran filsafat?

2. Bagaimanakah penerapan filsafat konstruktivisme dalam pendidikan fisika?

3. Bagaimanakah pengaruh filsafat konstruktivisme terhadap perilaku guru dan peserta

didik pada proses pembelajaran fisika?

  1. Batasan Permasalahan

Pada makalah ini permasalahan dibatasi pada:

    1. Pengertian filsafat, munculnya filsafat, dan perkembangan aliran filsafat
    2. Penerapan filsafat konstruktivisme dalam pendidikan fisika
    3. Pengaruh filsafat konstruktivisme terhadap perilaku guru dan peserta didik pada proses pembelajaran fisika

 

  1. Sistematika Penulisan Makalah

Sistematika penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

Bab I. Pendahuluan

  1. Latar Belakang
  2. Maksud dan Tujuan
  3. Permasalahan
  4. Batasan Permasalahan
  5. Sistematika Penulisan Makalah

 

Bab II. Pembahasan Masalah

  1. Pengertian Filsat, Munculnya Filsafat dan Perkembangan Aliran filsafat
  2. Filsafat Konstruktivisme Pendidikan Fisika
  3. Pembelajaran Fisika menurut Filsafat Konstruktivisme
  4. Proses Pembelajaran Fisika
  5. Dampak Konstruktivisme Bagi Siswa yang Belajar
  6. Dampak Konstruksivisme Bagi Guru Fisika

 

Bab III. Kesimpulan dan Saran

  1. Kesimpulan
  2. Saran

 

Lampiran:

Daftar Pustaka

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II.

PEMBAHASAN MASALAH

A. Pengertian Filsat, Munculnya Filsafat dan Perkembangan Aliran filsafat

    1. Pengertian Filsafat

Filsafat dalam bahasa Inggris, yaitu philosophy, adapun istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani,philosophia, yang terdiri atas dua kata: philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan shopia(hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran.

Plato menyebut Socrates sebagai philosophos (filosof) dalam pengertian pencinta kebijaksanaan. Sebelum Socrates ada satu kelompok yang menyebut diri mereka sophist (kaum sofis) yang berarti cendekiawan. Mereka menjadikan persepsi manusia sebagai ukuran realitas dan menggunakan hujah-hujah yang keliru dalam kesimpulan mereka. Sehingga kata sofis mengalami reduksi makna yaitu berpikir yang menyesatkan.

Secara umum filsafat berarti upaya manusia untuk memahami segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan kritis. Berarti filsafat merupakan sebuah proses bukan sebuah produk. Maka proses yang dilakukan adalah berpikir kritis yaitu usaha secara aktif, sistematis, dan mengikuti pronsip-prinsip logika untuk mengerti dan mengevaluasi suatu informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu diterima atau ditolak.

    1. Munculnya Filsafat

Filsafat, terutama filsafat Barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke-7 SM. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai berpikir dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada agama lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain seperti Babilonia, Arab atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.

 

Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filosof ialah Thales dari Mileta. Tetapi filosof-filosof Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Socrates, Plato, dan Aristoteles. Socrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato.

    1. Perkembangan Aliran Filsafat

Aliran filsafat dapat dianalogikan dengan suatu aliran beberapa sungai yang kemudian bermuara ke laut yang luas dan dalam. Aliran sungai yang pertama adalah aliran Parmenides, pemikiran filsafatnya berpendapat bahwa segala sesuatu yang ada tidak berubah. Pemikiran ini selanjutnya mempengaruhi pemikiran Plato, merupakan murid Socrates. Menurut Plato idea tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusia yang tergantung pada idea, sehingga alirannya sering disebut idealis. Idealis mempengaruhi pemikiran Rene Dekartes, pemikirannya membuat sebuah revolusi filsafat di Eropa karena pendapatnya yang revolusioner bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir (rasionalisme/ analitik apriori).

Aliran sungai yang kedua adalah aliran Herakleitos, menurutnya tidak ada satu pun hal di alam semesta yang bersifat tetap. Pemikirannya mempengaruhi Aristoteles, murid Plato. Berlawanan dengan Plato yang menyatakan teori tentang bentuk-bentuk ideal benda, Aristoteles menjelaskan bahwa materi tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada (eksis), dikenal sebagai paham realis. Selanjutnya pemikiran ini mempengaruhi David Hume, paham yang dianutnya adalah empiris (sintesis aposteiri).

Di zaman modern filsuf bernama Immanuel Kant, menggabungkan dua aliran tersebut, alirannya dikenal “sintetik apriori”. Sintetik adalah pengalaman, dan apriori adalah ilmu. Ilmu hambar tanpa pengetahuan, begitu juga sebaliknya. Pada perkembangan berikutnya pos modern, semakin banyak paham-paham yang muncul, dan dianut oleh para filsuf. Dan di zaman pos-pos modern, filsuf yang cukup berpengaruh adalah August Comte. Dia dikenal sebagai orang pertama yang mengaplikasikan metode ilmiah dalam ilmu sosial. Dari sinilah mulai muncul ilmu-ilmu bidang dan berbagai paham, seperti psikologi, sosiologi, sains, validisme, absolutism, konstruktivisme, dan lainnya. Saat ini adalah zaman power now (kotemporer) yang dikenal sebagai filsafat analitik atau bahasa.

 

 

  1. B.     Filsafat Konstruktivisme Pendidikan Fisika

Filsafat konstruktivisme, dewasa ini, mempunyai pengaruh yang besar dalam dunia pendidikan. Dengan berlandaskan pada teori ini, model pembelajaran sangat berbeda dengan model pembelajaran klasik. Filsafat konstruktivisme adalah filsafat yang mempelajari hakikat pengetahuan dan  bagaimana pengetahuan itu terjadi. Pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) bagi yang menekuninya.

Pengetahuan adalah proses menjadi lebih tahu, lebih lengkap dan lebih sempurna. Misalnya pengetahuan tentang listrik. Di Sekolah Dasar diperkenalkan bahwa lampu menyala karena ada arus listrik yang mengalir. Di Sekolah Menengah Pertama diperkenalkan berbagai rangkaian listrik. Di Sekolah Menengah Atas diperdalam lagi sampai rangkaian yang lebih kompleks dan selanjutnya terus diperdalam di perguruan tinggi.

Secara prinsipal, para konstruktivis menolak kemungkinan transfer pengetahuan dari seseorang kepada yang lain. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke siswa. Pengetahuan dikonstruksikan sendiri atau paling sedikit diinterpretasikan sendiri oleh siswa dan tidak begitu saja dipindahkan.

  1. Konstruktivisme Psikologis Personal (Piaget)

Konstruktivisme psikologis diawali oleh Piaget yang meneliti bagaimana seorang anak membangun pengetahuan kognitifnya. Seorang anak  mula-mula membentuk skema, mengembangkan skema, dan mengubah skema. Piaget lebih menekankan bagaimana si individu secara sendiri mengkonstruksi pengetahuan dari interaksinya dengan pengalaman dan objek yang dihadapi. Pendekatan Piaget ini bersifat personal dan individual.

Dalam kasus belajar fisika, seorang anak diberi kebebasan untuk mempelajari sendiri dan kemajuannya dapat sendiri-sendiri. Tekanannya adalah siswa hanya dapat mengerti fisika bila ia sendiri belajar dan dengan demikian membangun pengetahuannya sendiri.

 

  1. Sosiokulturalisme (Vygotsky)

Berbeda dengan Piaget, Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial dengan orang lain terlebih yang memiliki pengetahuan lebih baik  maupun lingkungan yang telah berkembang dengan baik. Misalnya seorang yang belajar fisika dipertemukan dengan ahli fisika yang dapat bercerita tentang pengalaman, pemikiran maupun penemuan-penemuannya. Dalam keterlibatan ini siswa tertantang untuk mengkonstruksi pengetahuannya sesuai dengan konstruksi para ahli.

Menurut sosiokulturalisme, kegiatan seseorang dalam memahami sesuatu dipengaruhi oleh partisipasinya dalam praktik-praktik sosial dan kultural yang ada, seperti masyarakat, sekolah, teman dan lain-lain. Misalnya keadaan masyarakat yang mendukung pendidikan dapat membantu anak-anak berkembang lebih baik. Belajar berkelompok dapat membuat semakin yakin dengan pengetahuan yang dimilikinya. Mereka dapat saling mengoreksi maupun melengkapi gagasan atau pendapat teman juga dapat saling mengisi kekurangannya.       Konstruktivisme bersifat kontekstual.  Jika konteksnya berbeda, maka siswa memahami konsepnya secara berbeda juga. Misalnya, seseorang anak menemukan bahwa titik didih air pada tekanan udara tinggi akan berbeda  ketika tekanan udaranya rendah.

  1. C.    Pembelajaran Fisika menurut Filsafat Konstruktivisme

Belajar merupakan proses perubahan, perubahan yang dimaksud di sini adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan tersebut meliputi sikap, keterampilan dan pengetahuan. Dari pengertian tersebut dapat diambil beberapa elemen penting yang terdapat di dalamnya. Adapun elemen tersebut yaitu :

(1)    belajar merupakan perubahan tingkah laku yang meliputi cara berpikir (kognitif), cara bersikap (afektif) dan perbuatan (psikomotor),

(2)   menambah atau mengumpulkan sejumlah pengetahuan,

(3)   siswa diumpamakan sebagai sebuah botol kosong yang siap untuk diisi penuh dengan pengetahuan, dan siswa diberi bermacam-macam materi pelajaran untuk menambah pengetahuan yang dimilikinya.

Menurut filsafat konstruktivisme menyatakan bahwa ”pengetahuan itu adalah bentukan (konstruksi) siswa sendiri yang sedang belajar “. Pengetahuan seseorang tentang listrik arus searah adalah bentukan siswa sendiri yang terjadi karena siswa mengolah, mencerna dan akhirnya merumuskan pengertian tentang listrik arus searah tersebut.              Jadi menurut filosofi konstruktivisme pengetahuan merupakan bentukan (konstruksi) dari orang yang sedang belajar, yaitu dengan mengembangkan ide-ide dan pengertian yang dimiliki oleh pribadi orang belajar tersebut. Dengan cara ini siswa dapat menjalani proses mengkonstruksi pengetahuan baik berupa konsep, ide maupun pengertian tentang sesuatu yang sedang dipelajarinya. Agar proses pembentukan pengetahuan dapat berkembang dengan baik, maka kehadiran pengalaman menjadi sangat penting untuk tidak membatasi pengetahuan siswa. Pengetahuan yang dibentuk dengan sendirinya oleh siswa ini dapat memunculkan atau mendorong terhadap siswa untuk mencari dan menemukan pengalaman baru.              Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang menekankan proses pembentukan pengetahuan oleh siswa sendiri dinamakan pembelajaran konstruktivisme. Aktivitas siswa merupakan syarat mutlak agar siswa bukan hanya mampu mengumpulkan banyak fakta, melainkan siswa mampu menemukan sesuatu pengetahuan dan mengalami perkembangan berpikir (proses perkembangan berpikir  dalam rangka membangun konsep).             Pengetahuan-pengetahuan yang didapat oleh masing-masing siswa dibawa ke dalam diskusi kelas, kemudian dipecahkan dan dibahas bersama-sama di dalam kelas. Dalam pembelajaran konstruktivisme, guru hanya berperan sebagai fasilitator dan moderator, tugasnya adalah merangsang dan membantu siswa untuk mau belajar sendiri dan merumuskan pengertiannya. Jelas sekali bahwa pembelajaran konstruktivisme adalah bentuk pembelajaran yang ideal yaitu pembelajaran siswa yang aktif, kreatif, dinamis dan kritis.

 

           D. Proses Pembelajaran Fisika

Bagi kaum konstruktivis, belajar adalah suatu proses organik untuk menemukan sesuatu, bukan suatu proses mekanik untuk mengumpulkan fakta. Belajar itu suatu perkembangan pemikiran dengan membuat kerangka pengertian yang berbeda. Pelajar harus mempunyai pengalaman dengan membuat hipotesis, menguji hipotesis, memanipulasi objek, memecahkan persoalan, mencari jawaban, menggambarkan, meneliti, berdialog, mengadakan refleksi, mengungkapkan pertanyaan, mengekspresikan gagasan dan lain-lain untuk membentuk konstruksi baru. Pelajar harus membentuk pengetahuan mereka sendiri dan guru membantu sebagai mediator dalam proses pembentukan itu. Belajar yang berarti atau bermakna terjadi melalui refleksi, pemecahan konflik pengertian, dan dalam proses memperbaharui tingkat pemikiran yang tidak lengkap menjadi lebih lengkap dan sempurna.             Proses belajar merupakan jalan yang harus ditempuh oleh seorang pelajar untuk mengerti sesuatu hal yang sebelumnya tidak diketahui. Belajar adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan (apakah dalam laboratorium atau dalam lingkungan alamiah) yang dibedakan dari perubahan-perubahan oleh faktor-faktor yang tidak termasuk latihan, misalnya perubahan karena narkoba bukan termasuk hasil belajar.              Filsafat konstruktivisme memperkenalkan bahwa belajar merupakan proses aktif pelajar mengkonstruksi arti baik teks, dialog, pengalaman fisis dan lain-lain. Belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dipunyai seseorang sehingga pengertiannya dikembangkan. Proses tersebut antara lain mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 1. Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan oleh siswa dari apa yang mereka lihat,

dengar, rasakan dan alami. Konstruksi pada makna tersebut dipengaruhi oleh pengertian yang

telah dimiliki oleh peserta didik, baik pengertian karena pengalaman atau dari informasi. 2. Konstruksi pada makna tersebut  adalah proses yang terus-menerus. Setiap kali berhadapan

dengan fenomena atau persoalan yang baru, diadakan rekonstruksi baik secara kuat maupun

lemah. 3. Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, melainkan lebih suatu pengembangan

pemikiran dengan membuat pengertian yang baru. Belajar bukanlah hasil perkembangan,

melainkan merupakan perkembangan itu sendiri, suatu perkembangan yang menuntut

penemuan dan pengaturan kembali pemikiran seseorang. 4. Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skema seseorang dalam keraguan yang

merangsang pemikiran lebih lanjut. Situasi ketidakseimbangan (disequilibrium) adalah situasi

yang baik untuk mengacu belajar. 5. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman belajar dengan dunia fisik dan lingkungannya.

 

Dari uraian di atas dapat didefinisikan bahwa ciri-ciri kegiatan belajar merupakan sesuatu yang menghasilkan perubahan-perubahan tingkah laku, keterampilan dan sikap pada diri individu yang belajar. Perubahan ini tidak harus segera tampak setelah proses pembelajaran, tetapi akan tampak pada kesempatan yang akan datang. Perubahan yang terjadi disebabkan oleh adanya suatu usaha yang disengaja.             Fisika sebagai salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang lebih banyak berkaitan dengan kegiatan-kegiatan seperti mengumpulkan data, mengukur, menghitung, menganalisis, mencari hubungan, menghubungkan konsep-konsep, semuanya ditujukan pada satu penyelesaian soal. Oleh karena itu, belajar fisika dengan prestasi tinggi, seharusnya tidak hanya menghafal teori, definisi dan sejenisnya, tetapi memerlukan pemahaman yang sungguh-sungguh.             Dalam belajar fisika hendaknya fakta konsep dan prinsip-prinsip fakta tidak diterima secara prosedural tanpa pemahaman dan penalaran. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang (guru) ke kepala orang lain (siswa). Siswa sendirilah yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dengan menyesuaikan terhadap pengalaman-pengalaman mereka. Pengetahuan atau pengertian dibentuk oleh siswa secara aktif, bukan hanya diterima secara pasif dari guru mereka. Untuk meningkatkan hasil dan proses pembelajaran fisika tentu saja diperlukan metode pengajaran yang sesuai dengan karakter siswa dan materi fisika. Pendekatan dan metode ini juga harus dapat menampilkan hakekat fisika sebagai proses ilmiah, sikap ilmiah serta produk ilmiah.

 

E.Dampak Konstruktivisme Bagi Siswa yang Belajar

Belajar adalah proses yang aktif. Siswa sendiri yang membentuk pengetahuannya. Dalam proses belajar ini, siswa menyesuaikan konsep dan ide-ide yang baru dengan kerangka berpikir yang mereka miliki. Siswa sendiri yang bertanggung jawab terhadap hasil belajar mereka. Belajar bukan sekedar mengumpulkan fakta. Di dalamnya dipenuhi dengan proses berpikir, dari membuat hipotesa, memecahkan persoalan, berefleksi dan seterusnya sampai terbentuk pengetahuan yang baru.

Dalam mempelajari suatu konsep, misalnya gerak dalam fisika, siswa sudah membawa konsep-konsep fisika sebelum mengikuti pelajaran formal di sekolah.  Konsep-konsep yang mereka bawa sering tidak tepat dan tidak sesuai. Itulah yang disebut  miskonsepsi.  Pengertian awal inilah yang perlu dikembangkan dan diluruskan dalam belajar di sekolah. Oleh karena pengetahuan dibentuk baik secara individual maupun sosial, maka belajar kelompok dapat dibentuk untuk mematangkan konstruksinya. Bagi siswa yang mempunyai gagasan salah, mereka dapat mengubahnya. Sedangkan bagi siswa yang mempunyai gagasan benar, dapat menjadi lebih yakin  dengan pengetahuannya.

 

  1. Dampak Konstruksivisme Bagi Guru Fisika

Mengajar bukanlah memindahkan pengetahuan dari otak guru ke otak siswa. Mengajar lebih merupakan proses membantu siswa sendiri membangun pengetahuannya. Peran guru bukan mentransfer ilmu, melainkan sebagai mediator atau fasilitator yang membantu siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan mereka secara cepat dan efektif.

Pendekatan mengajar konstruktivisme dapat memberikan pengaruh kepada pendidik dengan beberapa sikap dan praktik dalam proses pembelajaran sebagai berikut:

1.      Sebelum guru mengajar

a.    Guru menyiapkan bahan yang mau diajarkan dengan seksama.

b.   Guru mempersiapkan alat-alat peraga atau alat praktikum yang akan digunakan .

c.    Guru mempersiapkan pertanyaan dan arahan untuk merangsang siswa aktif belajar.

d.   Guru sebaiknya mendalami keadaan siswa, mengerti kelemahan dan kelebihan siswa.

e.    Guru perlu mempelajari pengetahuan awal siswa.

 

2.      Selama proses pembelajaran

a.       Siswa dibantu aktif belajar dan menekuni bahan.

b.      Siswa dipacu dan aktif untuk bertanya.

c.      Guru menggunakan metode ilmiah dalam proses penemuan sehingga siswa merasa

menemukan sendiri pengetahuan mereka.

d.      Pikiran dan gagasan siswa diikuti.

e.       Guru perlu menggunakan bervariasi metode pembelajaran.

f.       Siswa diajak melakukan kunjungan ke tempat pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam

seperti museum sains, laboratorium  tenaga atom, dan lain-lain.

g.      Guru perlu mengadakan praktikum terpimpin maupun bebas terlebih untuk topik yang sulit

sehingga siswa lebih mengerti.

h.      Siswa yang berpendapat salah tidak dicerca, sebaliknya pendapat mereka  diperhatikan.

i.        Jawaban alternatif dari siswa diterima atau dibahas.

j.        Kesalahan konsep siswa ditunjukkan dengan arif dan bijaksana.

k.      Pikiran siswa yang tidak tepat ditantang dengan menyediakan  data anomali yang

berlawanan dengan gagasan siswa.

l.       Siswa diberi waktu berpikir dan merumuskan gagasan mereka, tanpa harus dikejar-kejar

waktu.

m.    Siswa diberi kesempatan mengungkapkan pikirannya sehingga guru mengerti apakah

gagasan  mereka itu tepat atau tidak.

n.      Siswa diberi kesempatan untuk mencari pendekatan dan caranya sendiri dalam belajar dan

menemukan sesuatu.

o.      Guru perlu mengadakan evaluasi yang terus menerus dan menyertakan proses belajar dalam

evaluasi itu.

 

3.   Sesudah proses pembelajaran

a.       Guru memberikan pekerjaan rumah, mengumpulkannya serta mengoreksinya.

b.      Guru perlu sering memberikan tugas lain untuk pendalaman materi.

c.       Tes yang membuat siswa berpikir, bukan hafalan.

 

4.       Sikap yang perlu dimiliki oleh guru

a.    Siswa dianggap  sebagai subyek yang sudah tahu sesuatu.

b.    Model kelas adalah siswa aktif, guru sebagai fasilitator.

c.    Bila ditanya siswa dan guru tidak dapat menjawab, guru tidak perlu marah dan mencerca

siswa, lebih baik mengakuinya dan mencoba mencari bersama.

d.   Menyediakan ruang tanya jawab dan diskusi.

e.    Guru dan siswa saling belajar.

f.    Dalam mengajar yang penting bukan bahan selesai, tetapi siswa belajar untuk belajar sendiri.

g.   Guru perlu memberikan ruang untuk boleh salah bagi siswanya.

h.   Hubungan guru-siswa dialogal, saling dialog, dan kerja sama dalam mendalami pengetahuan.

i.    Guru mengembangkan pengetahuan yang luas dan mendalam.

j.    Guru mengerti konteks bahan yang mau diajarkan sehingga dapat menjelaskan secara

kontekstual.

 

BAB III.

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. A.    Kesimpulan

 

1. Filsafat dalam bahasa Inggris, yaitu philosophy, adapun istilah filsafat berasal dari bahasa

Yunani, philosophia, yang terdiri atas dua kata: philos (cinta) atau philia (persahabatan,

tertarik kepada) dan shopia (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman

praktis, inteligensi). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran.

2. Filsafat, terutama filsafat Barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke-7 SM. Filsafat

muncul ketika orang-orang mulai berpikir dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan

lingkungan.

3. Aliran filsafat yang pertama adalah aliran Parmenides, pemikiran filsafatnya berpendapat

bahwa segala sesuatu yang ada tidak berubah.  Aliran yang kedua adalah aliran Herakleitos,

menurutnya tidak ada satu pun hal di alam semesta yang bersifat tetap. Di zaman modern

filsuf bernama Immanuel Kant, menggabungkan dua aliran tersebut, alirannya  dikenal

sintetik apriori.

4. Filsafat konstruktivisme adalah filsafat yang mempelajari hakikat pengetahuan dan

bagaimana pengetahuan itu terjadi. Pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) bagi yang

menekuninya.

5. Belajar adalah proses yang aktif. Siswa sendiri yang membentuk pengetahuannya. Dalam

proses belajar ini, siswa menyesuaikan konsep dan ide-ide yang baru dengan kerangka

berpikir yang mereka miliki. Metode kelompok belajar merupakan metode yang dapat

memberikan kemandirian bagi siswa dalam menemukan dan memahami proses pembelajaran.

6.  Peran guru bukan mentransfer ilmu, melainkan sebagai mediator atau fasilitator yang

membantu siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan mereka secara cepat dan efektif.

7.  Pendekatan mengajar konstruktivis dapat memberikan pengaruh kepada pendidik  beberapa

sikap dan praktik dalam proses pembelajaran sebagai berikut:

 

 

(1).      Sebelum guru mengajar

a.    Guru menyiapkan bahan yang mau diajarkan dengan seksama.

b.   Guru mempersiapkan alat-alat peraga atau praktikum yang akan digunakan .

c.    Guru mempersiapkan pertanyaan dan arahan untuk merangsang siswa aktif belajar.

d.   Guru sebaiknya mendalami keadaan siswa, mengerti kelemahan dan kelebihan siswa.

e.    Guru perlu mempelajari pengetahuan awal siswa.

 

(2).      Selama proses pembelajaran

a.       Siswa dibantu aktif belajar dan menekuni bahan.

b.      Siswa dipacu untuk aktif bertanya.

c.      Guru menggunakan metode ilmiah dalam proses penemuan sehingga siswa merasa

menemukan sendiri pengetahuan mereka.

d.      Pikiran dan gagasan siswa diikuti.

e.       Guru perlu menggunakan bervariasi metode pembelajaran.

f.       Siswa diajak melakukan kunjungan ke tempat pengembangan Ilmu Pengetahuan

Alam seperti museum sains, laboratorium  tenaga atom, dan lain-lain.

g.      Guru perlu mengadakan praktikum terpimpin maupun bebas terlebih untuk topik

yang sulit sehingga siswa lebih mengerti.

h.      Siswa yang berpendapat salah untuk  tidak dicerca, sebaliknya pendapat mereka

diperhatikan.

i.        Jawaban alternatif dari siswa diterima atau dibahas.

j.        Kesalahan konsep siswa ditunjukkan dengan arif dan bijaksana.

k.      Pikiran siswa yang tidak tepat ditantang dengan menyediakan  data anomali yang

berlawanan dengan gagasan siswa.

l.       Siswa diberi waktu berpikir dan merumuskan gagasan mereka, tanpa harus dikejar-

kejar waktu.

m.    Siswa diberi kesempatan mengungkapkan pikirannya sehingga guru mengerti apakah

gagasan  mereka itu tepat atau tidak.

n.      Siswa diberi kesempatan untuk mencari pendekatan dan caranya sendiri dalam

belajar dan menemukan sesuatu.

o.      Guru perlu mengadakan evaluasi yang terus menerus dan menyertakan proses belajar

dalam  evaluasi itu.

 

(3).   Sesudah proses pembelajaran

a.       Guru memberikan pekerjaan rumah, mengumpulkannya serta mengoreksinya.

b.      Guru perlu sering memberikan tugas lain untuk pendalaman materi.

c.       Tes yang membuat siswa berpikir, bukan hafalan.

 

(4).       Sikap yang perlu dimiliki oleh guru

a.    Siswa dianggap  sebagai subyek yang sudah tahu sesuatu.

b.    Model kelas  adalah siswa aktif, guru sebagai fasilitator.

c.    Bila ditanya siswa dan guru  tidak dapat menjawab, guru tidak perlu marah dan

mencerca siswa, lebih baik mengakuinya dan mencoba mencari solusi bersama.

d.   Menyediakan ruang tanya jawab dan diskusi.

e.    Guru dan siswa saling belajar.

f.    Dalam mengajar yang penting bukan bahan selesai, tetapi siswa belajar untuk belajar

sendiri.

g.   Guru perlu memberikan ruang untuk boleh salah bagi siswanya.

h.   Hubungan guru-siswa dialogal, saling dialog, dan kerja sama dalam mendalami

pengetahuan.

i.    Guru mengembangkan pengetahuan yang luas dan mendalam.

j.    Guru mengerti konteks bahan yang mau diajarkan sehingga dapat menjelaskan secara

kontekstual.

 

  1. B.     Saran
    1. Perlu kajian yang mendalam untuk dapat membutikan pengaruh filsafat konstruktivisme dalam pembelajaran fisika, baik untuk guru maupun peserta didik ditinjau dari aspek perilaku dan tindakan atau aktivitas dalam persiapan, proses dan evaluasi pembelajaran.

 

 

Lampiran:

Daftar Pustaka

    1. Basori, A. Chairil, Filsafat, Semarang: IAIN Walisongo, 1985.
    2. Hamersma, Harry, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: PT. Gramedia, 1992.
    3. Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1990.
Pos ini dipublikasikan di filsafat ilmu fisika. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s