BELAJAR BERPIKIR SECARA INDUKTIF

Belajar Berpikir Secara Induktif

Membentuk konsep-konsep dengan mengumpulkan dan mengolah informasi

Contoh skenario :

Diana Schuetz menyediakan umbi-umbian tulip yang telah diklasifikasikan pada siwa-siswanya di kelas satu. Siswa-siwa itu kemudian membentuk kelompok-kelompok menurut ukuran, seperti tulip yang bertunas (“beberapa dari umbi tersebut memiliki tunas”), tulip yang ber”lapis”, dan tulip yang tampak sperti “akar”. Kemudian, siswa mulai menanam umbi-umbian mereka, mencoba u tuk menemukan apakah variasi dalam ciri-ciri yang mereka klasifikasi dapat berpengaruh pada bagaimana tulip itu tumbuh. (“Apakah umbi-umbian yang besar akan tumbuh lebih besar?” “Apakah justru tunas-tunas mereka yang tumbuh lebih dulu?” dan sebagainya). Dalam hali ini, Diana sebenarnya tengah merancang bidang kurikulum ilmu pengetahuan seputar proses-proses dasar membangun katagori, membuat prediksi, dan menguji validitasnya.

 

Pada salah satu contoh skenariondi atas pada dasarnya sama seperti skenario lainnya yang juga menjelaskan prosesn pembelajaran induktif. Dalam setiap kasus, sasaran-sasaran proses (berupa belajar membangun, menguji, dan menggunakan katagori) dikombinasikan dengan objek-objek bahan berupa penelitian dan pemahaman topik penting dalam kurikulum. Yakin dengan kemempuan siswa sebagai konseptor alamiah, yang selalu melakukan konseptualisasi setiap saat, membandingkan dan membedakan objek, kejadian, dan emosi semua hal.

  • Pedoman-pedoman dalam membentuk lingkungan belajar induktif :
  1. Fokus, membantu siswa untuk berkonsentrrasi pada suatu ranah (bidang penelitian) yang dapat mereka kuasai, tanpa menciutkan hati mereka yang justru dapat membuat mereka tidak bisa menggunakan seluruh kemampuannya untuk menghasilkan gagasan.
  2. Pengawasan / kontrol konseptual : membantu siswa mengembangkan pemahaman konseptual tentang ranah tertentu.
  3. Mengkonversi pemahaman konseptual menjadi keterampilan.

 

Lingkungan dibuat berdsarkan pengembangan komunitas pemelajaran, penciptaan seperangkat data, dan tugas-tugas pembelajaran, klasifikasi, reklasifikasi, dan pengembangan hipotesis. Selain itu, guru mengamati siswa (scaffolding) penelitian mereka dengan membantunya mengelaborasi dan mengembangkan konsep.

Model induktif dapat membantu siswa mengumpulkan informasi dan mengujinya dengan teliti, mengolah informasi ke dalam konsep-konsep, dan belajar memanipulasi konsep-konsep tersebut. Digunakan secara bertahap, strategi ini juga dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk membentuk konsep-konsep secara efisiensi dan meningkatkan jangkauan perspektif dari sisi mana mereka memandang suatu informasi.

 

  • Ø Penelitian

Walaupun hanya sedikit penelitian tentang model-model pengajaran memproses informasi yang difokuskan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membentuk da menggunakan konsep-konsep hipotesis-hipotesis, banyak pertanyaan yang diajukan oleh praktisi dan orang awam berhubungan dengan hal tersebut. Pada dasarnya, pertanyaan=pertanyaan itu merefleksikan suatu kekhawatiran bahwa konsentrasi pada model berpikir bisa jadi akan merintangi penguasaan siswa terhadap isi / bahan pengjaran.

Banyak guru mengajukan pertanyaan “ Saya punya abanyak bahan untuk dipelajari. Jika saya menghabiskan energi untuk mengajar model berpikir, tidaklah siswa akan kehilangan keterampilan dasar dan materi yang menjadi inti suatu kurikulum?” beberapa review penelitian telah mencantumkan pertanyaan ini.

El-Nemr (1979) melakukan studi yang fokus pada pengajaran biologi sebagai penelitian di sekolah tinggi. Dia melihat pengaruh prestasi siswa pada pengembangan keterampilan proses informasi dan pada sikap-sikap mereka terhadap ilmu pengetahuan. Kurikulum-kurikulum biologi yang berorientasi pada eksperimen menghasilkan pengaruh-pengaruh positif terhadap tiga hasil ini. Sedangkan analisis Bredderman (1983) lebih mencakup program ilmu pengetahuan dari kelas-kelas dasar. Dia juga melaporkan pengaruh positif berpikir induktif bagi pemrolehan informasi, kreativitas, dan proses ilmiah. Selain itu, dia juga melaporkan adanya pengaruh –pengaruh pola berpikir induktif atau pendekatan-pendekatan berbasis penelitian dalam pengajaran menulis menghasilkan ukuran pengaruh rata-rata sekitar 0,6 dibandingkan dengan proses-proses yang menggunakan bahan yang sama, tetapi tanpa pendekatan induktif dalam proses belajar mengajar.

Beberapa peneliti lain telah melakukan pendekatan untuk menemukan rata-rata pengaruh dalam hal transfer pengajaran berpikir dari satu kurikulum ke kurikulum lain, dan mereka juga telah mendapatkan bahwa kurikulum berorentasi penelitian hadir untuk menstimulasi pertumbuhan dalam bidang-bidang lain yang tampak tidak berhubungan. Contoh, analisis Smith (1980) tentang kurikulum estetika menunjukkan bahwa implementasi kurikulum berorientasi pada kesenian berpengaruh positif pada bidang-bidang keterampilan dasar.

Model pembelajaran yang sama dapat menjangkau seluruh siswa, tetapi ini merupakan penemuan biasa dalam kajian-kajian pengajaran dan strategi-strategi pengajaran. Selain itu, para guru yang “menjangkau” siswa keluar dari rutinitas yang membosankan juga mendorong siswa-siswa terbaik ke dalam keadaan pertumbuhan yang lebih tinggi dari pada hal-hal yang sudah terbiasa terjadi.

 

  • Struktir (Syntax) Pengajaran

Konsep yang kami sebut sebagai sintak menggambarkan struktur suatu model elemen-elemen atau tahap-tahap yang paling penting dan bagaimana keduanya diterapkan secara bersama-sama. Beberapa model, seperti perolehan konsep, relatif menentukan struktur-struktur dalam beberapa elemen dan tahap-tahap yang mengiringinya untuk mencapai efektivitas kerja yang maksimal. Beberapa model lain memiliki struktur pemutaran atau gelombang di mana tahap-tahap di daur ulang (digunakan kembali). Model induktif memiliki struktur pemutaran yang berkembang setiap waktu, penelitian induktif hampir tidak pernah singkat. Esensi proses induktif adalah pengumpulan dan penyaringan informasi tanpa henti, pengembangan gagasan, khususnya katagori-katagori yang menyediakan kontrol konseptual atas daerah-daerah informasi, penciptaan hipotesis untuk dieksperikan dalam upaya memahami hubungan-hubungan yang lebih baik atau menyediakan solusi untuk berbagai masalah, dan perubahan pengetahuan menjadi keterampilan yang memiliki aplikasi praktis.

Skenario pada contoh di awal pembahasan mengandung tahap-tahap model induktif meliputi : (1) mengidentifikasi dan menghitung data yang relevan dengan topik atau masalah (2) mengelompokkan objek-objek ini menjadi katagori-katagori yang anggotanya memiliki sifat umum (3) menafsirkan data dan mengembangkan label untuk katagori-katagori tadi sehingga data tersebut bisa dimanipulasi secara simbolis (4) mengubah katagori-katagori menjadi keterampilan atau hipotesis-hipotesis.

Untuk melibatkan siswa dalam aktivitas induktif, Taba (1967) membuat gerakan-gerakan pengajaran dalam bentuk tugas-tugas yang diberikan pada siswa, dan kami mengikuti contohnya. Contoh, menuruh siswa untuk “melihat data tentang pendapatan per kapita dan pertumbuhan populasi di 12 negara dari setiap benua di dunia “ akan mendorong mereka untuk membuat file data. Tugas “ tentukan negara mana saja yang mirip” sepertinya akan membuat siswa mengelompokan hal-hal yang telah mereka daftar. Pertanyaan “sebutkan hal-hal apa saja yang sesuai untuk kelompok-kelompok ini?” akan mengawali tugas sepertinya akan mendorong siswa untuk mengembangkan label dan katagori. Menyuruh siswa untuk mengkorerelasikan pendapatan dan pertumbuhan akan menuntun penafsiran yang lebh jauh dan pengembangan hipotesis-hipotesis (mereka akan menemukan bahwa ada korelasi terbalik antara pendapatan per kapita dan pertumbuhan populasi). Perkembangan skill akan muncul ketika siswa dapat membuat prediksi-prediksi tentang pertumbuhan populasi di suatu negara berdasarkan pada data pendapatan perkapita.

Guru terus menggerakan  odel tersebut model tersebut dengan memunculkan pertanyaan-pertanyaan untuk membimbing siswa dari satu ke tahap kegiatan selanjutnya pada saat yang tepat. Contoh, pengelompokan data akan terlalu dini jika data masih belum dididentifikasi dan dikalkulasi. Akan tetapi, menunda terlalu lama sebelum berpindah ke tahap selanjutnya juga akan menghilangkan kesempatan untuk belajar dan dapat mengurangi minat kognitif siswa. Untuk melatih siswa agar merespons model tersebut, kami menyarankan pada guru untuk memulainya dengan membimbing siswa melalui aktivitas-aktivitas yang didasarkan pada seperangkat data yang telah disajikan untuk mereka, dan dalam pelajaran-pelajaran berikutnya, guru tadi dapat melatih siswa bagaimana membuat dan mengolah seperangkat data tersebut. Adapun tahapannya sebagi berikut : tahap pengumpulan dan penyajian data, tahap pengujian dan penghitungan data, tahap klasifikasi pertama, tahap klasifikasi lanjutan, tahap membangun hipotesis dan meningkatkan keterampilan

 

  • Tips-tips mengajar secara induktif

Tips mengajar induktif menurut Bruce Joyce :

  1. Praktik, praktik dan praktik : membangun komunikasi melalui pembelajaran.
  2. Amati dan kaji begaimana siswa berpikir.
  3. Cobalah untuk terus membantu siswa belajar bagaimana cara belajar.
  4. Proses induktif membawa anak-anak untuk mengeksplorasi suatu bidang materi sebagai suatu komunitas pembelajaran yang berlatih untuk menguasai bidang tersebut.
  5. Kecuali berkonsentrasi pada elemen-elemen fonetik dan kosa kata yang baru dipelajari, kata-kata seharusnya diajikan dalam kalimat-kalimat yang menyediakan isyarat konteks dan jenis aktivitas dekat yang dibawa untuk meyakinkan bahwa ada makna / arti yang dibangun.
  6. Gunakan model ini dalam bidang-bidang kurikulum
  7. Pastikan seperangkat data memiliki sajian ciri atau sifat, baik untuk pembentukan konsep maupun pencapaian konsep.
  8. Berhati hatilah saat mengajarkan kalimat “lengkap” dan “tak lengkap”
  9. Membedakan antara fakta dan pendapat mungkin tidak cocok untuk eksplorasi singkat
  10. Dalam ilmu sains, cobalah fokus pada benda-benda di mana siswa dapat mengumpulkan data mentah.
  11. Siswa dapat membuat atau mendapat katagori-katagori yang berciri ganda
  12. Dalam mengajarkan konsep-konsep seperti adverb, harus ingat ahwa di setiap konsep itu terdapat banyak subkatagori.
  13. Berilah penekanan ulasan untuk serangkaian data yang tergolong rumit, seperti puisi.
  14. Mempelajari ciri-ciri sesuatu, seperti karakter dalam cerita, dapat menjadi inisiatif masalah yang menarik.
  15. Pertimbangkanlah jika ingin menyajikan objek dengan tatanan yang cukup rumit pada awal mula pengajaran.
  • Ø Dampak-dampak instruksional dan pengiring

 

Model pembelajaran dan pengajaran induktif dirancang untuk melatih siswa membuat konsep dan sekaligus untuk mengajarkan konsep-konsep dan cara penerapannya (generalisasi) pada mereka. Model ini mengajar minat siswa pada logika, minat pada bahasa dan arti kata-kata, dan minat pada sifat pengetahuan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pola berpikir yang baik selalu mengkombinasikan dua hal, yaitu disiplin dan fleksibilitas. Jika kita membantu siswa menjadi pemikir yang hebat dan fleksibel, kita harus menguasai paradoks-paradoks dan membuat lingkungan-lingkungan yang menawarkan tantangan dan dukungan kuata tanpa perlu memaksakan kemampuan siswa.

 

 

 

 

  • Model Berfikir Induktif

    Struktur model

    Pembentukan konsep

                    Mengkalkulasi dan membuat daftar

    Mengelompokkan

    Membuat label dan katagori

     

                    Interpretasi data

    Mengidentifikasi hubungan-hubungan yg penting

    Mengeksplorasi hubungan-hubungan

    Membuat dugaan / kesimpulan

     

    Penerapan prinsip

    Memprediksi konsekuensi, menjelaskan fenomena asing, menghipotesis

    Menjelaskan dan atau mendukung prediksi dan hipotesis

    Menguji kebenaran (verifikasi) prediksi

     

    Sistem sosial

    Model induktif sebenarnya begitu mudah untuk disusun. Model ini bersifat kooperatif, tetapi guru tetap enjadi inisiator dan pengawas semua kegiatan.

     

    Peran / tugas guru

    Guru menyesuaikan tugas-tugas dengan tingkat aktivitas kognitif siswa.

     

    Sistem pendukung

    Siswa memerlukan data mentah untuk diolah dan dianalisis.

     

    Damapak-dampak intruksional dan pengiring

    Model berpikir induktif pada gambar di atas, dirancang untuk melatih siswa dalam membentuk konsep, dan sekaligus mengajarkan konsep-konsep. Model ini juga membentuk perhatian siswa untuk fokus pada logika, bahasa dan arti kata-kata, dan sifat pengetahuan

    Bagan Ringkasan

 

 

 

 

Pos ini dipublikasikan di Fisika. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s