KAJIAN TENTANG NILAI-NILAI

KAJIAN TENTANG NILAI-NILAI

Role Playing dan Pendidikan Kebijakan Publik

PENDAHULUAN

Dalam pembelajaran berbasis nilai-nilai sosial, siswa diajak untuk dapat memberikan peranan baik dalam bersikap dan berperilaku yang dapat menggali nilai-nilai sosial di masyarakat. Dengan bermain peran siswa dapat mengeksplorasi masalah-masalah tentang hubungan antar manusia dengan cara memainkan peran dalam situasi permasalahan kemudian  siswa dapat mendiskusikan, mengungkapkan perasaan, tingkah laku, nilai-nilai dan strategi pemecahan masalah.

Pembelajaran nilai-nilai ini adalah puncak program pengajaran yang berbasis nilai-nilai sosial.

Cara dalam pembelajaran nilai dimulai dengan:

  1. Sebuah kondisi permasalahan dalam kehidupan siswa serta menjelaskan bagaimana nilai yang ada dalam diri mereka dapat menentukan tingkah laku dan menumbuhkan kesadaran siswa terhadap nilai-nilai moral. Efek langsungnya adalah merupakan pemahaman terbaik siswa mengenai sikap empati terhadap perbedaan-perbedaan nilai moral saat berinteraksi dengan orang lain. Efek langsung lainnya adalah strategi untuk memecahkan konflik dalam model yang tetap menghargai perbedaan sudut pandang tanpa mengabaikan kebutuhan nilai-nilai kemanusiaan universal.
  2. Penelitian hukum, menggiring kita pada dunia nilai yang dipakai dalam hal kebijakan publik. Perdebatan mengenai kebijakan publik perlu diperhitungkan sebab kebijakan publik membutuhkan nilai-nilai yang seimbang. Penelitian hukum menumbuhkan sensitivitas siswa terhadap isu publik dan berbagai cara dalam mengenali serta menyeimbangkan nilai-nilai demi mendapatkan solusi yang dicari. Sebagai contoh, perdebatan apakah warga sipil boleh memiliki sejata api, akan menggiring nilai-nilai yang mendukung kebebasan pribadi yang bertentangan dengan kebijakan kepemilikan senjata yang hanya diperbolehkan untuk warga militer.

 

DASAR PEMIKIRAN

Dasar  pemikiran dalam bermain peran (role playing) adalah sebagai berikut:

  1. Siswa mengeksplorasi masalah-masalah tentang hubungan antar manusia dengan cara memainkan peran dalam situasi permasalahan.
  2. Mendiskusikan peraturan-peraturan sesuai dengan peraturan yang berlaku di masyarakat.
  3. Secara bersama-sama, siswa mengungkapkan perasaan, tingkah laku, nilai dan strategi pemecahan masalah.

 

Role Playing merupakan sebuah model pengajaran yang berasal dari dimensi pendidikan individu maupun sosial. Model ini membantu siswa untuk menemukan:

  1. Makna pribadi dalam dunia sosial.
  2. Membantu memecahkan dilema pribadi dengan bantuan kelompok sosial.

 

Dalam dimensi sosial, model ini memudahkan individu untuk:

  1. Bekerjasama dalam menganalisis keadaan sosial, khususnya masalah antar manusia.
  2. Mewujudkan proses pengembangan sikap sopan dan demokratis dalam menghadapi masalah.
  3. Memerankan bagian yang mutlak dalam perkembangan manusia.
  4. Memberikan tawaran penting dalam memecahkan dilema interpersonal maupun sosial.

 

ORIENTASI MODEL

Tujuan dan Asumsi

Dalam model role playing dimainkan dalam beberapa tindakan berikut:

  1. Menguraikan sebuah masalah
  2. Memperagakan sebuah masalah
  3. Mendiskusikan masalah tersebut
  4. Beberapa siswa bertugas sebagai pemeran
  5. Beberapa siswa bertugas sebagai peneliti
  6. Seseorang menempatkan dirinya sebagai orang lain dan mencoba berinteraksi dalam peran tersebut
  7. Semua rasa empati, simpati, kemarahan dan kasih sayang dilibatkan dalam peran ini
  8. Kata-kata dan tindakan menjadi bahan analisis
  9. Setelah kegiatan dalam peran ini selesai, para pemeran peneliti mendapatkan keputusan dalam upaya-upaya  penyelesiaan situasi masalah tersebut

 

Esensi role playing

Esensi role playing adalah keterlibatan partisipan dan peneliti dalam situasi masalah yang sebenarnya dan adanya keinginan untuk memunculkan resolusi damai serta memahami apa yang muncul dari keterlibatan tersebut.

 

Peranan proses role playing

Proses role playing berperan untuk:

  1. Mengeksplorasi perasaan siswa
  2. Menstransfer dan mewujudkan pandangan mengenai perilaku, nilai dan persepsi siswa
  3. Mengembangkan skill pemecahan masalah dan tingkah laku
  4. Mengeksplorasi materi pelajaran dalam cara yang berbeda

 

Tujuan-tujuan ini mencerminkan beberapa asumsi mengenai proses pembelajaran dalam role playing. Role playing secara implisit menganjurkan sebuah pengalaman yang berbasis pembelajaran yang terjadi saat ini. Model ini berpandangan bahwa ada kemungkinan untuk menciptakan analog yang asli dan sama dengan kehidupan yang nyata dan lewat pengulangan ini siswa dapat memahami dan  merenungkan contoh kehidupan.

Sebuah asumsi yang berkaitan dalam pembahasan ini bahwa role playing dapat menggambarkan:

  1. Perasaan siswa
  2. Intelektual dan emosional siswa
  3. Analisis dan diskusi siswa

Dalam role playing sebagai pendidik harus dapat mengarahkan bagaimana siswa dapt mengenali dan memahami perasaannya masing-masing serta menyadari bahwa perasaan mereka mempengaruhi perilaku yang mereka tampakan.

Dalam sebuah gagasan, role playing tidak jauh berbeda dengan asumsi model sinektik. Pada dasarnya, emosi dan gagasan dapat digiring menuju sebuah kesadaran yang selanjutnya dikembangkan dalam kelompok.

Gagasan yang lain, role playing dalam model ini adalah bahwa proses psikologi secara tersembunyi yang melibatkan perilaku pribadi, nilai, dan system kepercayaan siswa dapat menumbuhkan semangat siswa untuk menggabungkan proses pengembangan yang dilakukan secara spontan dengan analisis yang dilakukannya.

 

Konsep Peran

Peran disini berarti rangkaian perasaan, kata-kata dan tindakan. Role merupakan sebuah alat yang unik dalam berhubungan dengan orang lain.

Peran individu ditentukan oleh beberapa factor selama beberapa tahun. Banyak orang merasakan perasaan dan  penilaian mereka secara gambling mengenai orang lain. Bagaimana beberapa orang ini berperilaku pada individu dan bagaimana pula masing-masing individu menghayati perasaannya akan mempengaruhi perasaan dan penilaian terhadap diri mereka sendiri.

Untuk mendapatkan pemahaman yang cukup memadai mengenai dirinya dan orang lain, setiap orang haruslah sadar dan menyadari peran serta bagaimana cara memainkannya.

Konsep peran merupakan salah satu pusat teori dasar dari model role playing. Ia juga menjadi tujuan utama dalam model ini. Kita harus mengajari siswa untuk menggunakan konsep ini, untuk memperhatikan beberapa peran yang berbeda, dan untuk memikirkan tingkah laku diri mereka sendiri maupun tingkah laku orang lain.

 

Model Pengajaran

Struktur

Manfaat role playing bergantung pada kualitas pemeranan dan  khususnya analisis yang mengiringinya. Manfaat ini juga ditentukan oleh persepsi siswa mengenai peran yang juga terdapat dalam kehidupan nyata.

Shaftels berpendapat bahwa role playing terdiri dari sembilan langkah, yaitu:

  1. Memanaskan suasana kelompok
  2. Memilih partisipan
  3. Mengatur setting tempat kejadian
  4. Menyiapkan peneliti
  5. Pemeranan
  6. Diskusi dan evaluasi
  7. Memerankan kembali
  8. Berdiskusi dan mengevaluasi
  9. Saling berbagi dan mengembangkan pengalaman

 

Masing-masing langkah dalam tahap ini memiliki tujuan khusus yang akan menambah kekayaan hasil model ini serta membantu siswa untuk fokus pada aktivitas pembelajaran.

Guru memancing sensitivitas kelompok dengan menyajikan sebuah masalah dan menciptakan iklim yang bersahabat, sehingga siswa-siswa merasakan bahwa semua pandangan, perasaan, dan tingkah laku dapat diungkapkan tanpa khawatir akan mendapatkan hukuman, apa pun bentuk ekspresi tersebut.

 

Tahapan pada model pembelajaran role playing:

Tahap Pertama:

Memanaskan Suasana Kelompok

  • Mengidentifikasi dan memaparkan masalah
  • Menjelaskan masalah
  • Menafsirkan masalah
  • Menjelaskan role playing
Tahap Kedua:

Memilih Partisipan

  • Menganalisis peran
  • Memilih pemain yang akan melakukan peran
Tahap Ketiga:

Mengatur setting

  • Mengatur sesi-sesi tindakan
  • Kembali menegaskan peran
  • Lebih mendekatkan pada situasi yang bermasalah
Tahap Keempat:

Mempersiapkan peneliti

  • Memutuskan apa yang  akan dicari
  • Memberikan tugas pengamatan
Tahap Kelima:

Pemeranan

  • Memulai role play
  • Mengukuhkan role play
  • Menyudahi role play
Tahap Keenam:

Berdiskusi dan Mengevaluasi

  • Mereview pemeranan (kejadian, posisi, kenyataan)
  • Mendiskusikan fokus-fokus utama
  • Mengembangkan pemeranan selanjutnya
Tahap Ketujuh:

Memerankan kembali

  • Memainkan peran yang diubah, memberikan masukan atau alternative perilaku dalam langkah selanjutnya
Tahap Kedelapan:

Diskusi dan Evaluasi

  • Mereview pemeranan (kejadian, posisi, kenyataan)
  • Mendiskusikan fokus-fokus utama
  • Mengembangkan pemeranan selanjutnya
Tahap Kesembilan:

Berbagi dan Menggeneralisasi Pengalaman

  • Menghubungkan situasi yang bermasalah dengan kehidupan di dunia nyata serta masalah-masalah yang baru muncul.
  • Menjelaskan prinsip umum dalam tingkah laku
     

 

Sistem Sosial

Model ini cukup terstruktur. Guru bertanggung dalam memulai tahap dan membimbing siswa melalui aktifitas pada tiap tahap. Namun, materi khusus dalam diskusi dan pemeranan ditentukan oleh siswa.

Sistem sosial dalam model ini cukup terstruktur. Guru memiliki tanggung jawab, paling tidak pada awal permainan, untuk memulai tahap-tahap dan membimbing siswa melalui aktivitas dalam tiap tahap.

Pertanyaan yang diajukan guru dapat mendorong ekspresi atau ungkapan yang jujur serta bebas dan menggambarkan perasaan atau pikiran siswa yang sebenarnya. Guru harus dapat menanamkan kualitas dan kepercayaan antara dirinya dan siswa-siswanya.

Yang terpenting, walaupun guru reflektif dan supportif, siswa tetaplah pihak yang berperan mengambil alih atau mengontrol arah pengajaran.

 

Peran/ Tugas Guru

  1. Menerima semua respons siswa dengan tanpa menghakimi
  2. Membantu siswa mengeksplorasi berbagai sisi mengenai situasi permasalahan dan membandingkan beberapa alternatif
  3. Meningkatkan kesadaran siswa tentang pandangan serta perasaan mereka dengan cara membuat refleksi, memparafrase, dan menyimpulkan respons-respons siswa
  4. Menggunakan konsep peran, dan menekankan bahwa ada banyak cara untuk memainkan peran
  5. Menekankan bahwa ada banyak alternatif dalam menyelesaikan sebuah masalah

Sistem Dukungan

Role playing adalah model yang berbasis pengalaman dan mensyaratkan adanya materi dukungan yang tidak terlalu banyak, selain situasi-situasi permasalahan itu sendiri. Sedangkan model hukum yang akan dibahas selanjutnya, membutuhkan bahan dan sumber informasi yang lebih rumit.

 

 

Gambar:              Dampak-dampak instruksional dan pengiring dalam model role playing

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pos ini dipublikasikan di model-model pembelajaran. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s